| 1. Latar belakang ide Regionalisasi |
 |
Kondisi air baku di Banten terbatas dan bendung Karian yang direncanakan di bangun tahun 2014 adalah merupakan salah saru sumber air baku masa depan bagi Propinsi Banten |
 |
Sebagian besar sumber air baku di Banten adalah lintas daerah administrasi Kabupaten, Kota bahkan lintas Propinsi |
 |
Jika dilihat dari kepadatan penduduk, maka penduduk Banten sebagian besar terletak di daerah timur dan utara yang sumber air bakunya sangat terbatas |
 |
Dengan kondisi pemekaran wilayah kabupaten/kota, menyebabkan beberapa PDAM juga terjadi pemisahan diri yang dampaknya adalah terjadi konflik antar PDAM atau daerah terkait dengan status asset dan pelayanan, dampak akhirnya adalah pelayanan kepada masyarakat menjadi terhambat |
 |
Bisnis PDAM pada dasarnya adalah bisnis network (jaringan), sehingga tidak dapat dipisahkan oleh batasan administrasi kabupaten/kota. Pengembangan PDAM kedepan harus berdasarkan cluster. |
 |
Selama 10 tahun terakhir tidak ada investasi besar untuk bidang air minum di Propinsi Banten sementara tingkat layanan masih sangat rendah ( 212.000 pelanggan atau setara dengan 12%) |
| |
|
|
| |
|
| 2. Pendekatan Konsep Regionalisasi di Banten |
 |
Regionalisasi Air Baku |
 |
Regionalisasi Teknis |
 |
Regionalisasi Pasar/Konsumen |
 |
Regionalisasi Manajemen |
| |
|
| 3. Keuntungan Regionalisasi di Banten |
 |
Terjadi sinergi antar PDAM(strategy, competency, resources, dll) |
 |
Meminimalisasi konflik antar daerah |
 |
Regionalisasi akan membentuk organisasi bisnis yang beroperasi dalam skala ekonomis yang besar |
 |
Regionalisasi akan mempercepat pelayanan masyarakat (MDG's) |
| |
|