 |
|
Pasca pelaksanaan Training Manajemen di Belanda bulan Oktober yang lalu, para peserta training mendiseminasikan hasil training ke seluruh anggota Perpamsi Banten di aula kantor pusat PDAM TKR Kab. Tangerang. Diseminasi yang diikuti oleh 30 orang dari PDAM dan Mitra Swasta, LOGO South Indonesia dan Perpamsi ini berisi penjelasan mengenai kegiatan selama training oleh H. Ridwan, Water & Waste water management oleh Cornelia Retnosutarjati, Pengelolaan Sumber Air Baku oleh Hj. Ratna Panduwinata, Asset Management & Leadership oleh H. Achmad Rohendi dan Costumer & Financial Management oleh Untung Suryadi.
Dalam penjelasannya mengenai Water & Waste water management, narasumber menjelaskan mengenai 2 IPA milik Waternet yaitu IPA Weesperkaspeel dan IPA Leiduin serta instalasi pengolahan limbah yang juga dikelola oleh Waternet. Proses pengolahan air yang dilakukan di 2 IPA tersebut merupakan proses air siap minum dengan proses operasional yang berbeda dimana IPA Leiduin 14 steps dan Weesperkaspeel 12 steps. |
Menilik penjelasan Hj. Ratna Panduwinata mengenai penyediaan air baku di Belanda pun cukup menarik, karena pengambilannya dilakukan tidak langsung dari sungai tapi dari Dune yaitu bukit berpasir yang terjadi secara alamiah selama ribuan tahun silam. Air diinfiltrasi ke dune dan diambil setelah 100 hari. Air inilah yang menjadi sumber air baku yang nantinya diolah menjadi air minum. Selain dari rembesan air juga berasal dari drainage yang mengalir kedalam dune. Pola pengelolaan air baku dilakukan untuk mengeliminir pengambilan air dari sungai secara besar-besaran, menjaga siklus air yang berkesinambungan dan tetap terjaganya kelestarian dan kebersihan air.
|
Sementara untuk Customer dan Financial management di jelaskan bahwa Waternet merupakan BLU (Badan Layanan Umum) bukan perusahaan walaupun pegawainya merupakan pegawai pemerintah. Penyediaan air minum adalah public service bukan untuk orientasi profit, sehingga Waternet diperbolehkan untuk tidak untung, namun pelayanan kepada masyarakat harus tetap terpenuhi. Jenis pelanggan terdiri dari Pelanggan dengan watermeter sebanyak 60% dan Pelanggan tanpa watermeter sebanyak 40%, pengertian tanpa watermeter adalah berlaku untuk flat, kondominium dan sejenisnya dimana perhitungan tarifnya dihitung per kamar. Tagihan pemakaian air dilakukan 3 kali dalam setahun. Tingkat kehilangan air nya hanya 3%, dimana salah satu komponen penyebabnya adalah penggunaan air untuk pemadam kebakaran.
Dalam paparan materinya mengenai Leadership dan Asset Management, H. Achmad Rohendi menerangkan tentang pola penerapan asset management di Waternet serta menyinggung sedikit pengertian Asset Management. Dimana masih dalam presentasinya dijelaskan bahwa dengan asset management maka seluruh data-data aser perusahaan, biaya dan resiko dapat dipenuhi secara cepat dan akurat. Walaupun belum banyak PDAM di Banten yang memiliki Asset Management, namun ke depan akan diupayakan cara agar Asset Management ini dapat diimplementasikan. Di akhir paparannya, dipresentasikan juga mengenai konsep Leadership dan cara-cara pengunaannya bagi sistim manajerial di PDAM.
Dalam acara penutupan, Subekti selaku Ketua Perpamsi Banten mengharapkan dari apa yang di desiminasikan, para peserta yang sebagian besar berasal dari Bagian Produksi, Keuangan, Litbang dan Pelayanan Pelanggan dapat mengambil hal-hal positif dalam rangka meningkatkan kinerja perusahaan dan dapat segera menerapkannya di PDAM masing-masing. Sedangkan untuk Asset Management akan diupayakan tindakan lebih lanjut baik berupa training maupun koordinasi antar PDAM serta akan dicoba untuk dimasukan kedalam bidang Twinning yang saat ini tengah dilaksanakan oleh Perpamsi Banten dengan Waternet Belanda. |